FIFA Tolak Usulan Teknologi

GETTY IMAGES/Julian Finney
Petugas mengoperasikan dan memantau kerja teknologi goal line. Namun, FIFA menolak teknologi itu digunakan dalam sepakbola.
Minggu, 9 Maret 2008 | 02:19 WIB
GLENEAGLES, SABTU - FIFA akhirnya menolak usulan pemanfaatan teknologi untuk membantu wasit dalam mengambil keputusan. Alasannya, sepakbola adalah olahraga manusia yang tetap harus menghormati nilai-nilai manusiawi.
Keputusan itu diambil FIFA dalam sidang internasional di Gleneagles, Skotlandia, Sabtu (8/3). FIFA memilih cara konservatif dalam menentukan gol dengan mengandalkan kemampuan wasit, daripada teknologi kamera atau goal line.
Sekretaris Jenderal FIFA, Jerome Valcke mengkhawatirkan, penggunaan teknologi tersebut akan membuat sepakbola menjadi kaku. Sehingga, daya tarik olahraga ini menjadi kurang menarik. FIFA lebih tertarik dengan usulan penambahan dua asisten wasit agar keputusan di lapangan lebih akurat.
“Kami sudah memutuskan untuk menghentikan semua usulan teknologi dalam membantu wasit. Kami akan membahas lebih dalam soal usulan penambahan dua wasit dan tak akan lagi membahas teknologi goal line,” jelas Valcke.
Usulan teknologi tersebut terutama ditentang oleh Presiden FIFA, Sepp Blatter, dan asosiasi sepakbola Wales (WFA). “Sepakbola adalah olahraga yang dimainkan manusia dengan wajah-wajah manusia. Ada aliran perasaan yang membuat olahraga ini menjadi khas dan menarik,” jelas Sekretaris Jenderal WFA, David Collins.
Presiden UEFA, Michel Platini, juga sependapat. Hanya saja, katanya, satu wasit dan dua hakim garis yang digunakan selama ini semakin kurang memadahi. Sebab itu, usulan penambahan wasit menjadi sangat menarik.
“Dengan hanya tiga wasit di lapangan, sepakbola sering mendapatkan masalah. Mereka tidak bisa melihat segala kejadian. Sepakbola memang harus tetap manusiawi, tapi penambahan dua wasit akan sangat membantu,” jelasnya.
Keputusan itu tentu saja mengecewakan perusahaan yang memproduksi Hawk-Eye. Teknologi yang akan menentukan apakah bola sudah keluar atau sudah masuk ke garis gawang atau belum. Teknologi itu juga sudah digunakan dalam olahraga tenis.
Sebelumnya, produsen Hawk-Eye sangat optimistis teknologi itu akan disahkan FIFA sebagai perangkat wajib dalam sepakbola. Apalagi, teknologi itu cukup meyakinkan ketika diuji coba di Stadion Madejski, bulan lalu.
“Kami sangat kecewa dengan keputusan itu. Kami telah melakukan investasi yang mahal, tapi tak mampu mengembalikannya,” sesal Direktur Manajerial Hawk-Eye, Paul Hawkins.
Kekecewaan juga dirasakan oleh federasi sepakbola Inggris (FA). “Ini sama saja mati di dalam air. FA selalu mendukung diterapkannya teknologi untuk membantu wasit dan asistennya untuk membuat keputusan yang benar,” keluh Kepala Eksekutif FA, Brian Barwick.
Inggris sendiri sudah mempersiapkan diri menggunakan teknologi tersebut. Bahkan, rencananya Premier League sudah memakai teknologi goal line mulai 2009.
Sistem goal line itu akan menghabiskan dana sebesar 250.000 poundsterling (sekitar Rp 4,5 miliar) untuk setiap lapangan. Instalasi detektor Hawk-Eye akan dipasang di garis gawang, demikian juga 12 kamera yang menyorot sekitar gawang. Sebuah komputer akan dioperasikan untuk menangkap gambar dan pesan yang langsung dihubungkan kepada wasit. Sehingga, sang wasit bisa membuat keputusan yang benar ketika terjadi kontroversi tentang gol.
“Teknologi ini memang belum final. Tapi, perkembangannya sudah memuaskan. Bahkan, yang sudah ada sangat membantu wasit dalam mengambil keputusan yang tepat dan benar. Klub-klub di Inggris juga sangat menunggu penerapan teknologi tersebut,” jelas Sekretaris Jenderal FA, Mike Foster. (AP/HPR)
Www.kompas.com